Minggu, 11 Agustus 2024

PENDIDIKAN NILAI UNTUK ANAK

PENDIDIKAN NILAI UNTUK ANAK


Pendidikan nilai merupakan bagian penting dari perkembangan anak, yang membantu mereka membentuk karakter dan moral yang kuat. Nilai-nilai ini mencakup aspek-aspek seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, kerja sama, dan rasa hormat. Berikut adalah beberapa langkah dan strategi untuk menanamkan pendidikan nilai pada anak:

Strategi Pendidikan Nilai untuk Anak

  1. Menjadi Teladan

    • Anak-anak belajar banyak melalui observasi. Orang tua dan guru harus menjadi contoh perilaku yang mencerminkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, empati, dan integritas.
  2. Diskusi Terbuka

    • Buatlah lingkungan di mana anak merasa nyaman untuk berbicara tentang nilai-nilai dan moral. Diskusikan situasi nyata atau cerita yang menggambarkan nilai-nilai tertentu.
  3. Penguatan Positif

    • Berikan pujian dan pengakuan ketika anak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan. Ini bisa memperkuat keinginan mereka untuk terus berperilaku positif.
  4. Pemberian Tanggung Jawab

    • Berikan anak tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan usia mereka untuk mengajarkan nilai tanggung jawab dan kepercayaan.
  5. Pembelajaran Melalui Buku dan Cerita

    • Gunakan buku, cerita, dan dongeng yang mengandung pesan moral untuk membantu anak memahami nilai-nilai dengan cara yang menarik dan relevan.
  6. Kegiatan Sosial dan Layanan

    • Libatkan anak dalam kegiatan sosial dan layanan masyarakat. Ini bisa membantu mereka belajar tentang empati, kepedulian terhadap orang lain, dan pentingnya kontribusi positif terhadap komunitas.
  7. Diskusi tentang Konsekuensi

    • Jelaskan kepada anak konsekuensi dari tindakan mereka, baik yang positif maupun negatif. Ini membantu mereka memahami pentingnya membuat keputusan yang bijak.
  8. Membuat Aturan Keluarga

    • Buatlah aturan keluarga yang mencerminkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Pastikan aturan ini jelas dan konsisten diterapkan.

Nilai-Nilai yang Penting untuk Diajarkan

  1. Kejujuran

    • Ajarkan anak untuk selalu mengatakan yang sebenarnya dan menghindari kebohongan.
  2. Tanggung Jawab

    • Tanggung jawab bisa diajarkan melalui tugas rumah, kewajiban sekolah, dan menjaga barang-barang pribadi mereka.
  3. Empati

    • Bantu anak memahami perasaan orang lain dan ajarkan mereka untuk peduli terhadap sesama.
  4. Rasa Hormat

    • Rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain adalah nilai penting yang bisa diajarkan melalui sikap sopan, mendengarkan dengan baik, dan menghargai perbedaan.
  5. Kerja Sama

    • Ajarkan pentingnya bekerja sama dengan orang lain dan bagaimana kerja tim bisa mencapai tujuan bersama.
  6. Keadilan

    • Ajarkan anak untuk bersikap adil dalam bermain, belajar, dan dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan dalam Pendidikan Nilai

  1. Pengaruh Lingkungan Luar

    • Anak-anak dipengaruhi oleh teman sebaya, media, dan lingkungan sosial mereka. Orang tua perlu waspada dan membimbing anak dalam menghadapi pengaruh ini.
  2. Konsistensi

    • Penting untuk tetap konsisten dalam menegakkan nilai-nilai yang diajarkan. Ketidakkonsistenan bisa membingungkan anak dan mengurangi efektivitas pendidikan nilai.
  3. Perubahan Zaman

    • Nilai-nilai bisa berubah seiring waktu dan budaya. Orang tua perlu menyesuaikan pendekatan mereka agar tetap relevan dan efektif.

Kesimpulan

Pendidikan nilai adalah proses yang berkelanjutan dan memerlukan keterlibatan aktif dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak bisa tumbuh menjadi individu yang bermoral, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Membekali anak dengan nilai-nilai positif sejak dini akan membantu mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan bijak dan berintegritas.

Sabtu, 10 Agustus 2024

POLA ASUH POSITIF

POLA ASUH POSITIF

Bermain bersama teman memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan anak. Aktivitas ini tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga berperan penting dalam berbagai aspek perkembangan mereka, termasuk sosial, emosional, kognitif, dan fisik. Berikut adalah beberapa dampak positif bermain bersama teman terhadap perkembangan anak:

Dampak Sosial

  1. Kemampuan Berinteraksi

    • Bermain dengan teman membantu anak-anak belajar cara berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Mereka belajar cara berbicara, mendengarkan, dan memahami perasaan orang lain.
  2. Pengembangan Keterampilan Komunikasi

    • Melalui interaksi dalam permainan, anak-anak mengembangkan keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal. Mereka belajar mengungkapkan ide, keinginan, dan kebutuhan mereka.
  3. Pentingnya Kerja Sama

    • Banyak permainan melibatkan kerja sama dan kolaborasi. Anak-anak belajar bagaimana bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, menyelesaikan masalah, dan berbagi tanggung jawab.
  4. Memahami Nilai-Nilai Sosial

    • Bermain bersama teman membantu anak memahami dan menghargai nilai-nilai sosial seperti keadilan, rasa hormat, dan empati. Mereka belajar pentingnya memperlakukan orang lain dengan baik dan adil.

Dampak Emosional

  1. Pengembangan Empati

    • Bermain bersama teman memungkinkan anak-anak untuk merasakan dan memahami emosi orang lain, yang penting untuk mengembangkan empati.
  2. Peningkatan Rasa Percaya Diri

    • Melalui interaksi positif dengan teman, anak-anak dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Pujian dan dukungan dari teman sebaya dapat membantu anak merasa lebih percaya diri.
  3. Manajemen Emosi

    • Anak-anak belajar mengelola emosi mereka, seperti frustrasi, marah, atau kegembiraan, dalam konteks sosial. Ini membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan pengendalian diri.

Dampak Kognitif

  1. Pemecahan Masalah

    • Bermain seringkali melibatkan pemecahan masalah, yang merangsang perkembangan kognitif anak. Mereka belajar untuk berpikir kritis dan mencari solusi kreatif.
  2. Pengembangan Keterampilan Akademis

    • Banyak permainan yang melibatkan elemen pembelajaran, seperti penghitungan, membaca, dan penalaran logis. Bermain dapat memperkuat keterampilan akademis secara informal.
  3. Stimulasi Kreativitas

    • Bermain permainan imajinatif atau kreatif dapat merangsang pikiran anak dan mendorong mereka untuk berpikir di luar batas-batas konvensional.

Dampak Fisik

  1. Aktivitas Fisik

    • Banyak permainan melibatkan aktivitas fisik, yang penting untuk perkembangan motorik kasar dan halus anak. Bermain aktif membantu anak tetap sehat dan bugar.
  2. Koordinasi dan Keseimbangan

    • Melalui permainan fisik, anak-anak mengembangkan koordinasi, keseimbangan, dan keterampilan motorik lainnya.

Tantangan dan Pertimbangan

  1. Pengaruh Teman Sebaya

    • Teman-teman dapat mempengaruhi perilaku anak, baik positif maupun negatif. Penting bagi orang tua dan guru untuk memantau interaksi anak dan memberikan bimbingan bila perlu.
  2. Keterampilan Sosial yang Berbeda

    • Anak-anak memiliki tingkat perkembangan sosial yang berbeda-beda. Beberapa anak mungkin membutuhkan lebih banyak bimbingan dalam mengembangkan keterampilan sosial mereka.
  3. Kecenderungan Mengucilkan

    • Dalam kelompok bermain, ada risiko anak-anak menjadi terisolasi atau dikucilkan. Orang dewasa harus peka terhadap dinamika kelompok dan mendorong inklusi.

Kesimpulan

Bermain bersama teman adalah bagian penting dari perkembangan anak yang mencakup berbagai aspek sosial, emosional, kognitif, dan fisik. Melalui permainan, anak-anak belajar keterampilan hidup yang esensial, mengembangkan hubungan yang sehat, dan mempersiapkan diri untuk berbagai tantangan di masa depan. Orang tua dan pendidik memiliki peran penting dalam mendukung dan memfasilitasi permainan yang sehat dan bermanfaat.

POLA ASUH POSITIF
ChatGPT

Pola asuh positif adalah pendekatan dalam mendidik anak yang berfokus pada pengembangan hubungan yang sehat dan penuh kasih antara orang tua dan anak. Pola asuh ini menekankan penghargaan, empati, dan penguatan positif, serta mendorong perilaku baik melalui dukungan dan pemahaman. Berikut adalah prinsip, manfaat, dan strategi penerapan pola asuh positif:

Prinsip Pola Asuh Positif

  1. Penghargaan dan Penguatan Positif

    • Fokus pada memperkuat perilaku baik melalui pujian dan penghargaan, daripada menghukum perilaku buruk.
  2. Empati dan Pemahaman

    • Memahami dan menghargai perasaan dan perspektif anak, serta berusaha untuk memahami alasan di balik perilaku mereka.
  3. Komunikasi Terbuka

    • Menciptakan lingkungan di mana anak merasa aman untuk berbicara tentang perasaan dan pikirannya tanpa takut dihakimi atau dihukum.
  4. Konsistensi dan Struktur

    • Menetapkan aturan yang jelas dan konsisten, serta memberikan panduan yang stabil untuk anak.
  5. Pengembangan Kemandirian

    • Mendorong anak untuk mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan sendiri, sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan mereka.

Manfaat Pola Asuh Positif

  1. Peningkatan Kepercayaan Diri

    • Anak-anak yang diasuh dengan pendekatan positif cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi karena mereka merasa dihargai dan didukung.
  2. Hubungan yang Lebih Baik

    • Pola asuh positif membantu membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih antara orang tua dan anak, berdasarkan rasa saling percaya dan komunikasi terbuka.
  3. Pengembangan Keterampilan Sosial

    • Anak-anak belajar untuk berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang sehat dan hormat, karena mereka diajarkan nilai-nilai empati dan kerjasama.
  4. Kesehatan Emosional

    • Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh positif cenderung memiliki kesehatan emosional yang lebih baik, karena mereka merasa didukung dan dipahami.
  5. Perilaku yang Lebih Baik

    • Dengan fokus pada penguatan positif, anak-anak lebih termotivasi untuk berperilaku baik dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Strategi Penerapan Pola Asuh Positif

  1. Berikan Pujian yang Spesifik

    • Saat anak melakukan sesuatu yang baik, berikan pujian yang spesifik dan jelas. Contoh: "Kamu hebat sekali telah menyelesaikan pekerjaan rumahmu tepat waktu!"
  2. Tetapkan Aturan yang Jelas dan Konsisten

    • Anak-anak membutuhkan batasan yang jelas untuk memahami apa yang diharapkan dari mereka. Pastikan aturan dan konsekuensi diterapkan secara konsisten.
  3. Jadilah Teladan yang Baik

    • Tunjukkan perilaku positif dalam tindakan sehari-hari. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dari orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka.
  4. Gunakan Komunikasi yang Efektif

    • Dengarkan dengan penuh perhatian saat anak berbicara dan berikan respons yang konstruktif. Hindari menghakimi atau mengkritik secara berlebihan.
  5. Berikan Pilihan dan Tanggung Jawab

    • Berikan anak kesempatan untuk membuat pilihan dan mengambil tanggung jawab. Ini membantu mereka merasa dihargai dan belajar kemandirian.
  6. Atasi Perilaku Buruk dengan Cara yang Konstruktif

    • Alih-alih menghukum, gunakan pendekatan yang membantu anak memahami konsekuensi dari perilaku mereka dan belajar dari kesalahan.
  7. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama Anak

    • Luangkan waktu untuk beraktivitas bersama anak tanpa gangguan. Ini membantu membangun hubungan yang lebih dekat dan memberikan kesempatan untuk mengajarkan nilai-nilai positif.

Kesimpulan

Pola asuh positif adalah pendekatan yang berfokus pada pengembangan hubungan yang sehat, penuh kasih, dan mendukung antara orang tua dan anak. Dengan menerapkan prinsip-prinsip pola asuh positif, orang tua dapat membantu anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri, mandiri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Strategi-strategi yang diterapkan dalam pola asuh positif juga dapat membantu menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan penuh pengertian.

Jumat, 09 Agustus 2024

PERILAKU BUNUH DIRI PADA ANAK

PERILAKU BUNUH DIRI PADA ANAK


Perilaku bunuh diri pada anak adalah masalah serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan segera. Meskipun jarang dibandingkan dengan orang dewasa, bunuh diri pada anak tetap menjadi isu yang mengkhawatirkan dan penting untuk dipahami. Berikut adalah informasi mengenai faktor risiko, tanda-tanda peringatan, penyebab, dan langkah-langkah pencegahan serta intervensi:

Faktor Risiko

  1. Gangguan Mental

    • Depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar adalah faktor risiko utama.
  2. Pengalaman Trauma

    • Pengalaman trauma seperti pelecehan fisik, emosional, atau seksual dapat meningkatkan risiko bunuh diri.
  3. Masalah Keluarga

    • Konflik dalam keluarga, perceraian, atau kehilangan orang tua dapat menjadi faktor yang berkontribusi.
  4. Bullying

    • Anak-anak yang menjadi korban bullying, baik di sekolah maupun online, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami pikiran bunuh diri.
  5. Riwayat Keluarga

    • Riwayat bunuh diri atau gangguan mental dalam keluarga dapat meningkatkan risiko.
  6. Penyalahgunaan Zat

    • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba dapat memperburuk kondisi mental dan meningkatkan risiko bunuh diri.

Tanda-Tanda Peringatan

  1. Perubahan Perilaku

    • Perubahan drastis dalam perilaku, seperti menarik diri dari teman dan keluarga, penurunan prestasi akademis, atau kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya disukai.
  2. Ekspresi Verbal

    • Anak mungkin berbicara tentang keinginan untuk mati atau bunuh diri, meskipun dalam bentuk candaan atau komentar ringan.
  3. Perubahan Emosi

    • Meningkatnya tingkat kecemasan, depresi, atau kemarahan yang tidak biasa.
  4. Memberikan Barang Berharga

    • Anak mungkin mulai memberikan barang-barang pribadi mereka kepada orang lain.
  5. Perilaku Berisiko

    • Terlibat dalam perilaku berisiko tinggi atau berbahaya tanpa memperhatikan konsekuensinya.

Penyebab

  1. Tekanan Akademis

    • Tekanan untuk berprestasi di sekolah dapat menyebabkan stres yang berlebihan pada anak.
  2. Isolasi Sosial

    • Kurangnya dukungan sosial atau merasa tidak diterima dalam kelompok sebaya.
  3. Kesehatan Mental

    • Gangguan kesehatan mental yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati.
  4. Krisis Identitas

    • Kesulitan dalam memahami atau menerima identitas diri, termasuk isu-isu terkait orientasi seksual atau identitas gender.

Pencegahan dan Intervensi

  1. Pendidikan dan Kesadaran

    • Mendidik anak-anak, orang tua, guru, dan komunitas tentang tanda-tanda peringatan dan risiko bunuh diri.
  2. Dukungan Emosional

    • Membuat lingkungan yang mendukung di rumah dan sekolah di mana anak-anak merasa aman untuk berbicara tentang perasaan mereka.
  3. Akses ke Layanan Kesehatan Mental

    • Memastikan anak-anak memiliki akses ke profesional kesehatan mental yang terlatih untuk memberikan dukungan dan intervensi yang diperlukan.
  4. Komunikasi Terbuka

    • Mendorong komunikasi yang terbuka dan jujur tentang perasaan dan masalah yang dihadapi anak.
  5. Pemantauan Media Sosial

    • Mengawasi penggunaan media sosial dan membantu anak-anak mengatasi cyberbullying dan tekanan dari media sosial.
  6. Pelatihan bagi Orang Tua dan Guru

    • Memberikan pelatihan tentang bagaimana mengenali tanda-tanda peringatan dan cara merespons dengan tepat.

Langkah-Langkah Darurat

  1. Ambil Serius Semua Ancaman

    • Setiap ancaman bunuh diri harus dianggap serius dan segera ditindaklanjuti.
  2. Hubungi Profesional

    • Segera hubungi profesional kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater.
  3. Hubungi Layanan Darurat

    • Jika anak berada dalam bahaya langsung, hubungi layanan darurat atau bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
  4. Jauhkan Benda Berbahaya

    • Pastikan tidak ada akses ke benda-benda berbahaya seperti senjata, obat-obatan, atau benda tajam.

Kesimpulan

Perilaku bunuh diri pada anak adalah masalah kompleks yang memerlukan pendekatan multi-sektoral dan dukungan dari keluarga, sekolah, dan komunitas. Dengan mengenali tanda-tanda peringatan, memahami faktor risiko, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan serta intervensi yang tepat, kita dapat membantu mencegah tragedi bunuh diri pada anak dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengatasi tantangan yang mereka hadapi.

Kamis, 08 Agustus 2024

PENGARUH PERKEMBANGAN ERA DIGITAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK

PENGARUH PERKEMBANGAN ERA DIGITAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK


Perkembangan era digital memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental anak. Meskipun teknologi dan media digital menawarkan banyak manfaat, seperti akses mudah ke informasi dan peluang pembelajaran yang luas, mereka juga membawa sejumlah tantangan yang dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak. Berikut adalah beberapa pengaruh utama perkembangan era digital terhadap kesehatan mental anak:

Dampak Positif

  1. Akses ke Informasi dan Pembelajaran

    • Anak-anak dapat dengan mudah mengakses informasi edukatif dan sumber daya pembelajaran, yang dapat memperkaya pengetahuan dan keterampilan mereka.
  2. Komunikasi dan Koneksi Sosial

    • Media sosial dan platform komunikasi digital memungkinkan anak-anak untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga, bahkan jika mereka terpisah secara geografis.
  3. Pengembangan Keterampilan Teknologi

    • Paparan teknologi sejak dini membantu anak-anak mengembangkan keterampilan digital yang penting untuk masa depan mereka.
  4. Dukungan Emosional dan Sosial

    • Anak-anak dapat menemukan dukungan emosional dan komunitas yang mendukung melalui kelompok online yang berbagi minat atau pengalaman yang sama.

Dampak Negatif

  1. Ketergantungan dan Kecanduan

    • Penggunaan berlebihan perangkat digital dan media sosial dapat menyebabkan ketergantungan dan kecanduan, mengganggu aktivitas sehari-hari dan kesehatan mental anak.
  2. Cyberbullying

    • Anak-anak dapat menjadi korban bullying online, yang dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, dan dalam kasus yang ekstrem, dorongan untuk bunuh diri.
  3. Penurunan Interaksi Tatap Muka

    • Waktu yang dihabiskan di depan layar dapat mengurangi waktu untuk interaksi sosial tatap muka, yang penting untuk perkembangan keterampilan sosial dan emosional.
  4. Gangguan Tidur

    • Paparan cahaya biru dari layar digital dapat mengganggu pola tidur anak, menyebabkan masalah tidur yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik.
  5. Stres dan Kecemasan

    • Paparan terus-menerus terhadap informasi dan media sosial dapat menyebabkan stres dan kecemasan, terutama ketika anak merasa tekanan untuk memenuhi standar sosial yang tidak realistis.
  6. Isolasi Sosial

    • Meskipun teknologi dapat membantu anak-anak tetap terhubung, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan isolasi sosial, mengurangi interaksi langsung dengan teman sebaya.

Langkah-Langkah untuk Mengurangi Dampak Negatif

  1. Atur Waktu Layar

    • Tetapkan batas waktu layar harian yang sehat untuk anak-anak dan dorong aktivitas fisik serta interaksi sosial di dunia nyata.
  2. Pantau Konten

    • Pantau jenis konten yang diakses oleh anak-anak dan pastikan mereka tidak terpapar materi yang tidak sesuai atau berbahaya.
  3. Edukasi tentang Keamanan Digital

    • Ajarkan anak-anak tentang pentingnya privasi, keamanan online, dan cara melaporkan perilaku tidak pantas atau bullying di internet.
  4. Dorong Aktivitas Non-Digital

    • Dorong anak untuk terlibat dalam kegiatan non-digital seperti olahraga, seni, dan permainan di luar ruangan untuk mengimbangi waktu yang dihabiskan di depan layar.
  5. Fasilitasi Komunikasi Terbuka

    • Ciptakan lingkungan di mana anak merasa nyaman untuk berbicara tentang pengalaman online mereka, termasuk masalah atau tekanan yang mereka hadapi.
  6. Berikan Contoh yang Baik

    • Orang tua dan pengasuh harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat dan seimbang.

Kesimpulan

Perkembangan era digital membawa banyak peluang dan tantangan bagi kesehatan mental anak. Sementara teknologi dapat memberikan manfaat edukatif dan sosial, penting bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk mengenali dan mengelola potensi risiko. Dengan pendekatan yang seimbang dan perhatian yang tepat, dampak negatif teknologi pada kesehatan mental anak dapat diminimalkan, sehingga mereka dapat memanfaatkan manfaat teknologi tanpa mengorbankan kesejahteraan mereka.

Rabu, 07 Agustus 2024

DAMPAK BURUK PERKAWINAN ANAK

DAMPAK BURUK PERKAWINAN ANAK


Perkawinan anak, yaitu pernikahan yang melibatkan individu di bawah usia 18 tahun, memiliki dampak buruk yang signifikan pada kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial anak. Praktik ini, meskipun masih terjadi di berbagai bagian dunia, memiliki konsekuensi serius yang dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan anak. Berikut adalah beberapa dampak buruk dari perkawinan anak:

Dampak Kesehatan

  1. Risiko Kesehatan Ibu dan Anak

    • Anak perempuan yang menikah muda sering kali mengalami kehamilan dini, yang dapat menyebabkan komplikasi kesehatan seperti eklampsia, fistula obstetrik, dan kematian ibu serta bayi. Tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan dengan aman.
  2. Kesehatan Mental

    • Perkawinan anak dapat menyebabkan stres, depresi, dan trauma psikologis. Anak-anak yang dipaksa menikah mungkin merasa terisolasi dan tidak berdaya, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.
  3. Kekerasan dalam Rumah Tangga

    • Anak-anak yang menikah sering kali lebih rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik, emosional, maupun seksual. Mereka mungkin tidak memiliki kekuatan atau pengetahuan untuk melindungi diri mereka sendiri atau mencari bantuan.

Dampak Pendidikan

  1. Putus Sekolah

    • Anak-anak yang menikah sering kali harus meninggalkan sekolah, yang membatasi peluang mereka untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Ini berdampak negatif pada kemampuan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan.
  2. Kurangnya Kesempatan Pengembangan Diri

    • Perkawinan anak menghentikan perkembangan pribadi dan intelektual mereka. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar, mengejar minat mereka, dan mengembangkan keterampilan yang dapat membantu mereka mandiri.

Dampak Sosial dan Ekonomi

  1. Kemiskinan

    • Anak yang menikah muda cenderung lebih sulit keluar dari lingkaran kemiskinan. Tanpa pendidikan dan keterampilan yang memadai, mereka memiliki peluang yang lebih sedikit untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan berpenghasilan cukup.
  2. Isolasi Sosial

    • Anak-anak yang menikah sering kali terisolasi dari teman sebaya dan lingkungan sosial mereka. Mereka mungkin dipaksa untuk mengambil peran dewasa sebelum waktunya dan kehilangan masa kecil mereka.
  3. Keterbatasan Hak dan Kebebasan

    • Perkawinan anak sering kali melanggar hak-hak dasar anak, termasuk hak untuk pendidikan, perlindungan dari kekerasan, dan kesempatan untuk berkembang secara maksimal.

Dampak Jangka Panjang

  1. Generasi Berikutnya

    • Anak-anak dari ibu yang menikah di usia muda sering kali mengalami masalah kesehatan dan pendidikan yang sama, menciptakan siklus kemiskinan dan ketidaksetaraan antar generasi.
  2. Kesejahteraan Masyarakat

    • Perkawinan anak memiliki dampak negatif pada masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat yang memiliki tingkat perkawinan anak yang tinggi cenderung mengalami masalah sosial dan ekonomi yang lebih besar, termasuk tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dan kurangnya perkembangan manusia yang optimal.

Pencegahan dan Solusi

  1. Pendidikan dan Pemberdayaan Anak Perempuan

    • Meningkatkan akses anak perempuan ke pendidikan berkualitas dan memberikan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mandiri adalah langkah kunci untuk mencegah perkawinan anak.
  2. Perubahan Hukum dan Kebijakan

    • Menerapkan dan menegakkan hukum yang melarang perkawinan anak, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya praktik ini.
  3. Kampanye Kesadaran

    • Melakukan kampanye kesadaran di komunitas tentang dampak buruk perkawinan anak dan pentingnya pendidikan dan pengembangan anak.
  4. Dukungan Keluarga dan Komunitas

    • Memberikan dukungan kepada keluarga untuk memahami pentingnya menunda perkawinan anak dan mendukung pendidikan serta kesehatan anak perempuan.

Kesimpulan

Perkawinan anak memiliki dampak buruk yang luas dan mendalam terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial anak. Pencegahan dan solusi untuk masalah ini memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan pendidikan, perubahan hukum, dan dukungan komunitas. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat membantu melindungi hak-hak anak dan memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

DAMPAK BERMAIN BERSAMA TEMAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

DAMPAK BERMAIN BERSAMA TEMAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK


Bermain bersama teman memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan anak. Aktivitas ini tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga berperan penting dalam berbagai aspek perkembangan mereka, termasuk sosial, emosional, kognitif, dan fisik. Berikut adalah beberapa dampak positif bermain bersama teman terhadap perkembangan anak:

Dampak Sosial

  1. Kemampuan Berinteraksi

    • Bermain dengan teman membantu anak-anak belajar cara berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Mereka belajar cara berbicara, mendengarkan, dan memahami perasaan orang lain.
  2. Pengembangan Keterampilan Komunikasi

    • Melalui interaksi dalam permainan, anak-anak mengembangkan keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal. Mereka belajar mengungkapkan ide, keinginan, dan kebutuhan mereka.
  3. Pentingnya Kerja Sama

    • Banyak permainan melibatkan kerja sama dan kolaborasi. Anak-anak belajar bagaimana bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, menyelesaikan masalah, dan berbagi tanggung jawab.
  4. Memahami Nilai-Nilai Sosial

    • Bermain bersama teman membantu anak memahami dan menghargai nilai-nilai sosial seperti keadilan, rasa hormat, dan empati. Mereka belajar pentingnya memperlakukan orang lain dengan baik dan adil.

Dampak Emosional

  1. Pengembangan Empati

    • Bermain bersama teman memungkinkan anak-anak untuk merasakan dan memahami emosi orang lain, yang penting untuk mengembangkan empati.
  2. Peningkatan Rasa Percaya Diri

    • Melalui interaksi positif dengan teman, anak-anak dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Pujian dan dukungan dari teman sebaya dapat membantu anak merasa lebih percaya diri.
  3. Manajemen Emosi

    • Anak-anak belajar mengelola emosi mereka, seperti frustrasi, marah, atau kegembiraan, dalam konteks sosial. Ini membantu mereka dalam mengembangkan keterampilan pengendalian diri.

Dampak Kognitif

  1. Pemecahan Masalah

    • Bermain seringkali melibatkan pemecahan masalah, yang merangsang perkembangan kognitif anak. Mereka belajar untuk berpikir kritis dan mencari solusi kreatif.
  2. Pengembangan Keterampilan Akademis

    • Banyak permainan yang melibatkan elemen pembelajaran, seperti penghitungan, membaca, dan penalaran logis. Bermain dapat memperkuat keterampilan akademis secara informal.
  3. Stimulasi Kreativitas

    • Bermain permainan imajinatif atau kreatif dapat merangsang pikiran anak dan mendorong mereka untuk berpikir di luar batas-batas konvensional.

Dampak Fisik

  1. Aktivitas Fisik

    • Banyak permainan melibatkan aktivitas fisik, yang penting untuk perkembangan motorik kasar dan halus anak. Bermain aktif membantu anak tetap sehat dan bugar.
  2. Koordinasi dan Keseimbangan

    • Melalui permainan fisik, anak-anak mengembangkan koordinasi, keseimbangan, dan keterampilan motorik lainnya.

Tantangan dan Pertimbangan

  1. Pengaruh Teman Sebaya

    • Teman-teman dapat mempengaruhi perilaku anak, baik positif maupun negatif. Penting bagi orang tua dan guru untuk memantau interaksi anak dan memberikan bimbingan bila perlu.
  2. Keterampilan Sosial yang Berbeda

    • Anak-anak memiliki tingkat perkembangan sosial yang berbeda-beda. Beberapa anak mungkin membutuhkan lebih banyak bimbingan dalam mengembangkan keterampilan sosial mereka.
  3. Kecenderungan Mengucilkan

    • Dalam kelompok bermain, ada risiko anak-anak menjadi terisolasi atau dikucilkan. Orang dewasa harus peka terhadap dinamika kelompok dan mendorong inklusi.

Kesimpulan

Bermain bersama teman adalah bagian penting dari perkembangan anak yang mencakup berbagai aspek sosial, emosional, kognitif, dan fisik. Melalui permainan, anak-anak belajar keterampilan hidup yang esensial, mengembangkan hubungan yang sehat, dan mempersiapkan diri untuk berbagai tantangan di masa depan. Orang tua dan pendidik memiliki peran penting dalam mendukung dan memfasilitasi permainan yang sehat dan bermanfaat.

Kompleksitas & Agresi Remaja Laki- Laki

Kompleksitas & Agresi Remaja Laki- Laki

Tindakan kekerasan dan pelanggaran norma dalam kehidupan sehari-hari lebih sering ditemukan di kalangan remaja laki- laki, bahwa perilaku agresi remaja laki-laki cenderung lebih tinggi daripada perempuan baik di dalam kelompok laki-laki maupun kelompok lawan jenis. Perilaku lain seperti membolos, memiliki gambar atau bacaan porno, mabuk, berkelahi dan tawuran, juga banyak dilakukan remaja laki-laki dibanding remaja perempuan.

Sering kita bertanya- tanya, mengapa remaja laki- laki ini mudah sekali tersulut emosi dan kemudian lepas kendali?

Fase Kritis Perkembangan Remaja, Periode Badai, dan Tekanan

“Senggol sitik bacok!”

Sebagai orang dewasa, kita sering kita mengucapkan kalimat di atas untuk bahan lelucon. Tetapi di kalangan remaja laki-laki, ucapan tersebut bisa jadi merupakan refleksi realitas yang sangat dekat dengan situasi di sekitar mereka. Sedikit saja merasa ego laki-laki mereka disepelekan, mulut, kaki, dan tangan bisa hilang kendali dan pegangan.

Perilaku lepas kendali yang seringkali berujung dengan keinginan untuk menyakiti orang lain biasa kita kenal dengan istilah agresi. Perilaku ini dapat berbentuk umpatan verbal, intimidasi psikologis, maupun kontak fisik langsung. Agresi pada anak remaja, khususnya laki-laki, disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya ada faktor genetik dan lingkungan, lemahnya pengawasan orangtua, tekanan teman sebaya, lingkungan yang tidak aman, periode kritis transisi remaja, nilai patriarki di masyarakat, serta regulasi diri yang lemah.

Masa remaja adalah masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, adolescence is a time of storm and stress. Pada fase ini, remaja harus menghadapi tugas perkembangan yang cenderung kompleks dan relatif berat. Mereka mengalami perubahan yang besar, baik secara fisik, intelektual, maupun emosional. Jika ada trigger dan provokasi yang tidak disertai regulasi diri yang mumpuni, sudah barang tentu akan berpotensi menimbulkan konflik, frustasi, dan tekanan lain yang memungkinkan mereka bertindak agresif.

Di usia remaja, laki-laki menghadapi berbagai masalah seperti konflik perasaan dengan lawan jenis, tekanan kelompok sebaya, gesekan dengan remaja laki- laki lain, penolakan kepada aturan orangtua, serta pergumulan antara keinginan mencoba hal baru dan norma sosial dan hukum yang ketat membatasinya. Semua ini menjadi rantai yang saling berkesinambungan dan akhirnya membentuk gejolak emosional yang kompleks dalam diri remaja.

Memahami Kompleksitas Remaja

Pada kasus remaja yang menyebabkan kerusakan pada peristiwa demonstrasi tahun 2020 lalu, turunnya mereka ke jalan dan berdemonstrasi sebenarnya merefleksikan kehidupan remaja dari banyak sisi. Tentang identitas mereka sebagai seseorang yang mempunyai pendapat, tentang agensi diri mereka yang tidak digubris oleh aparat, tentang pengasuhan yang mempengaruhi respon terhadap situasi krisis, serta bagaimana agresi adalah respon akumulasi dari semua hal tersebut di atas.

Sebetulnya kompleksitas masalah pada kehidupan remaja merupakan hal yang alami. Adanya kompleksitas ini dapat membentuk remaja menjadi pribadi lebih tangguh. Ia bisa berkembang menjadi individu yang memiliki banyak kemampuan untuk menyelesaikan krisis, bertahan hidup, dan bahkan meningkatkan taraf hidupnya di fase perkembangan yang akan datang.

Memang, banyak remaja yang mampu beradaptasi dengan baik terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya, juga kebutuhan dan harapan orang tua dan masyarakat di sekitarnya. Tak sedikit yang mengalami kesulitan dalam menghadapinya sehingga menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan pada kemandirian emosional.

Lalu, bagaimana menyikapinya?

Penting untuk memahami, mendampingi, mendukung, dan mengawasi proses perkembangan remaja khususnya laki-laki agar bisa berjalan sehat, baik secara fisik, nalar, maupun emosi. Dalam menghadapi remaja dan kecenderungan agresinya dibutuhkan kesabaran ekstra untuk memberi mereka ruang berproses dengan emosi dan kontrol diri.

Kita harus siap dan bersedia untuk memfasilitasi, bukan memaksa, perubahan positif dalam diri mereka. Keterlibatan orang dewasa berkontribusi penting agar remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang diri mereka sendiri, lingkungan, dan bagaimana memberikan respon yang tidak membahayakan orang lain. Hal ini menjadi bekal penting untuk masa depan mereka agar menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab.
MENGAJARKAN STRATEGI REGULASI EMOSI PADA REMAJA

MENGAJARKAN STRATEGI REGULASI EMOSI PADA REMAJA


Masa remaja adalah fase transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.
 World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja sebagai individu  yang berusia antara 10 dan 19 tahun. Masa remaja juga disamakan dengan pubertas yang berpuncak pada kematangan reproduksi.

Masa remaja dapat menjadi masa yang emosional. Ada dua faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Yang pertama adalah faktor internal. Misalnya:  kematangan berpikir, kepribadian, dan status kesehatan mental. Otak remaja belum seutuhnya matang. Hal ini mempengaruhi kematangan berpikir remaja sehingga ia lebih mudah reaktif dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, remaja dengan kepribadian yang temperamental cenderung emosional dalam menyingkapi stimulus. Status kesehatan mental remaja juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi emosinya. Remaja dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada umumnya memiliki masalah dalam meregulasi emosi. Faktor kedua yang dapat mempengaruhi emosi remaja adalah faktor eksternal. Misalnya: pola asuh, lingkungan keluarga, pergaulan, beban sekolah, dan internet. Ketidakmampuan orangtua dalam menerapkan pola asuh yang tepat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak mengalami masalah emosi. Misalnya: selalu permisif, selalu otoriter atau selalu mengabaikan. Keluarga yang tidak harmonis  akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan emosi remaja. Pergaulan juga dapat mempengaruhi perkembangan emosi remaja. Perundungan (bullying) dan bergaul dengan anak-anak yang bermasalah dalam emosi akan membuat remaja mengalami masalah emosi. PR tidak selalu menjadi solusi untuk menstimulasi kedisiplinan remaja dalam belajar. PR bisa menjadi penyebab remaja mengalami masalah emosi. Misalnya: PR yang harus dikerjakan ketika libur, PR yang terlalu banyak atau PR yang terlalu berat. Video games, games online; youtube, dan media sosial juga dapat menjadi penyebab emosi negatif  pada remaja.

Agar emosi negatif remaja tidak  berdampak buruk pada status kesehatan mental, pendidikan, prestasi akademik, hubungan dengan orang lain, dan citra diri remaja, maka mereka harus memiliki keterampilan regulasi emosi yang baik. Berikut adalah strategi regulasi emosi yang dapat diajarkan kepada remaja.

Memahami Diri Sendiri

Sama seperti membantu remaja memahami bagaimana pubertas mengubah tubuh mereka, mereka juga harus dibantu untuk memahami bagaimana pubertas mengubah pikiran mereka. Ajar mereka untuk memahami bagian-bagian otak. Misalnya: bagaimana pusat penghargaan (sistem limbik) berkembang sepenuhnya di otak remaja dan bagaimana korteks prefrontal belum selesai berkembang. Itulah sebabnya remaja mengalami emosi yang begitu mendalam. Dengan memahami hal ini, remaja tidak terlalu frustasi dengan keadaan dirinya dan mau berlatih meregulasi emosinya.

Mengolah Pernapasan

Mengolah pernafasan bermanfaat untuk menenangkan diri. Ini adalah strategi yang baik dilakukan ketika remaja merasa tidak teratur secara emosional karena dapat memberikan oksigen ke otak, sehingga membantu mereka berpikir lebih baik dan membuat pilihan yang lebih cerdas.

Relaksasi Otot

Relaksasi otot adalah latihan dimana remaja mengendurkan otot-otot. Latihan ini dapat mengurai stres yang hebat dan dapat membantu mengatasi kemarahan dan agresi.

Masuk ke Ruang Tenang

Ruang tenang adalah suatu tempat yang aman dan nyaman bagi remaja ketika sedang emosi. Misalnya ketika sedang marah, sedih, atau cemas. Ini adalah ruang khusus untuk melatih keterampilan pengaturan emosi. Ruang tenang merupakan ruangan dengan suhu yang sejuk, aroma ruangan yang menyegarkan dan cahaya yang agak redup. Dapat juga dilengkapi dengan kasur empuk, pemutar musik, headphone, bola stres, spidol, kertas atau alat lukis.

Self Talk

Jika remaja merasa tidak enak, pikiran negatif yang terus-menerus dapat menyebabkan hal-hal negatif. Bantulah remaja mengenali pikiran-pikiran negatif, menghentikan pikiran-pikiran negatif tersebut dan menggantikannya pikiran-pikiran positif.

Mengidentifikasi Perilaku Emosional dan Pemicunya

Kemampuan mengidentifikasi perilaku emosional dan pemicunya dapat mencegah terjadinya perilaku emosional. Misalnya: jika remaja marah maka ia memiliki kecenderungan memukul orang yang membuatnya marah. Remaja harus belajar bahwa marah adalah wajar tetapi memukul orang adalah perilaku yang tidak baik. Jika memukul orang lain, maka orang itu sangat mungkin membalas memukul dengan pukulan yang lebih hebat dan ia akan kesakitan. Atau, memukul orang lain akan menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, jika marah, tidak boleh memukul siapa pun, tetapi dapat melakukan hal lain. Misalnya: meninggalkan orang itu dan masuk kamar, melukis, menulis semua yang dirasakan di buku atau komputer, atau bermain musik.

Memahami Perasaan, Keinginan dan Pikiran Sendiri

Berbagai emosi dapat muncul karena perasaan, keinginan dan pikiran. Misalnya: sedih jika dijauhi oleh teman, marah jika diejek, atau menjadi takut karena berpikir ayahnya marah kepadanya. Semua orang pasti memiliki perasaan, pikiran dan keinginan. Remaja harus memahami hal ini. Dengan demikian, ia tidak merasa aneh atau merasa ada yang salah pada dirinya karena perasaan, pikiran dan keinginannya. Yang tidak tepat adalah jika perasaan diekspresikan dengan cara salah, atau memaksakan pikiran dan keinginan kepada orang lain.

Mengajarkan Teknik Mengekspresikan Perasaan dengan Tepat

Remaja perlu memiliki keterampilan mengekspresikan perasaan dengan tepat. Misalnya: jika marah tidak perlu menghancurkan piring dan perabotan lainnya, tetapi bisa dengan memukul samsak, dan hanya samsak yang boleh dipukul; jika sedih tidak perlu meraung-raung dengan sangat keras, tetapi bisa mencurahkan perasaan dengan bernyanyi, mendengarkan musik atau berdoa.

Mengkomunikasikan Keinginan, Pikiran dan Perasaannya dengan Tepat

Ada kalanya keinginan, pikiran dan perasaan harus dikomunikasikan. Akan tetapi, harus dikomunikasikan kepada orang yang tepat dan dengan cara yang tepat. Misalnya: Remaja tidak mau pulang sekolah langsung bikin PR. Ia mau mengerjakan PR setelah istirahat. Hal ini harus ia komunikasikan kepada ibunya. Ia harus bicara baik-baik, tanpa marah-marah apalagi sambil membanting barang-barang.

Mengajarkan Teknik Menenangkan Diri

Remaja yang sedang emosional harus dapat menenangkan dirinya sendiri. Misalnya: masuk ke “ruang tenang”, memeluk guling, mengatur pernafasan, melukis, mendengarkan musik, berbaring dan tidur, duduk di taman, mencuci muka, atau minum air putih. Mengatakan hal yang positif kepada diri sendiri (self talk) cukup ampuh untuk menenangkan diri. Misalnya mengatakan pada diri sendiri: “aku pasti bisa melewati semua ini”, atau “aku bisa tenang”. Teknik menenangkan diri untuk setiap orang berbeda, bahkan untuk setiap remaja bisa berbeda dalam situasi yang berbeda. Itulah sebabnya remaja perlu diajarkan banyak teknik untuk menenangkan diri.

Menangis

Menangis adalah bentuk pengaturan emosi yang valid. Tidak perlu melarang remaja menangis. Air mata bukan tanda kelemahan atau kurangnya kompetensi. Dengan menangis orang dapat melepaskan ketegangan emosional dan kesedihan.

Selain mengajarkan berbagai strategi regulasi emosi, orangtua dapat menolong remaja meregulasi emosi dengan cara sebagai berikut:

Menciptakan Rumah yang Nyaman  

Rumah yang nyaman bukan bangunan megah, mentereng dan mewah dengan halaman asri nan luas. Rumah yang nyaman adalah rumah dimana ada cinta kasih. Cinta kasih akan membuat semua anggota kelurga saling menerima dan menghargai. Inilah yang membuat rumah menjadi nyaman dan membuat emosi semua anggota keluarga menjadi teduh sehingga mereka betah tinggal di sana. Semua orang membutuhkan rumah yang nyaman. Oleh karena itu, rumah yang nyaman perlu dibangun.

Menjadi Teladan

Cara belajar yang efektif bagi anak adalah dengan meniru apa yang ia lihat dan dengar, terutama yang ia lihat dan dengar di rumahnya. Itulah sebabnya keteladanan orangtua dalam meregulasi emosi merupakan hal yang sangat penting.

Membangun Hubungan yang Positif dengan Anak

Hubungan yang positif antara orangtua dan anak akan membuat anak merasa nyaman dan aman. Hubungan yang positif akan terjadi apabila orangtua dapat menghargai dan dipercayai oleh remaja. Dengan demikian, orangtua menjadi rekomendasi pertama dan utama bagi remaja untuk mencari nasihat dan pertolongan ketika terjadi sesuatu pada dirinya. Ini juga dapat membuat emosi remaja menjadi lebih teduh dan terkontrol.

Menerapkan Pola Asuh yang Tepat

Pola asuh yang diterapkan kepada anak dapat mempengaruhi kondisi emosi anak. Pola asuh yang tepat membuat emosi anak stabil dan tidak meledak-ledak dalam merespon stimulus yang diterima.

Tidak Ikut Marah ketika Anak Marah

Marah kepada orang  yang sedang marah bukan solusi, bahkan dapat membuat keadaan semakin kacau. Teriakan amarah orangtua dan anak tidak hanya akan membuat emosi keduanya makin kacau, tetapi menimbulkan ketidaknyaman bagi orang-orang di sekitar mereka. Jika itu terjadi di tempat umum, tentu mengganggu kepentingan umum.

Tidak Melakukan Kekerasan

Apa pun alasannya, kekerasan kepada anak tidak dibenarkan. Kekerasan terhadap anak akan membuat anak tumbuh menjadi individu yang bermasalah, termasuk bermasalah dalam emosi.

Menerapkan Konsekuensi

Komunikasikan kepada anak bahwa segala sesuatu mengandung konsekuensi, termasuk perilakunya. Misalnya: Boleh marah, tetapi tidak boleh melempar piring. Jika melempar piring, maka ada konsekuensi serius yang harus ia tanggung. Dengan demikian, ia akan belajar meregulasi emosinya dengan tepat.

Mendiskusikan dengan Pihak yang Berkepentingan

Berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkepentingan perlu dilakukan, misalnya dengan guru di sekolah. Bukan untuk membuat banyak orang menjadi tahu masalah regulasi emosi pada anak, tetapi untuk menambah kekuatan dalam membantu anak meregulasi emosinya.

Mencari Pertolongan Ahli

Masalah regulasi emosi pada anak bisa muncul karena masalah neurologi. Ini biasa terjadi pada anak penyandang autis dan ADHD. Oleh karena itu, pertolongan ahli sangat dibutuhkan. Misalnya: mencari pertolongan kepada ahli pendidikan anak berkebutuhan khusus, psikolog klinis, atau psikiater.

Kamis, 18 Juli 2024

MENGAJAR ANAK BERTANGGUNG JAWAB

MENGAJAR ANAK BERTANGGUNG JAWAB

Dalam dunia ini banyak terjadi kekacauan karena banyak orang yang tidak bertanggung jawab, baik itu di level berbangsa dan bernegara, bermasyarakat dan dalam kehidupan keluarga. Banyak juga orang yang hidupnya menjadi berantakan karena tidak bertanggung jawab. Ia tidak bertanggung jawab sebagai seorang pelajar, tidak bertanggung jawab sebagai seorang anak, tidak bertanggung jawab sebagai seorang karyawan, tidak bertanggung jawab sebagai orangtua, tidak bertanggung jawab sebagai seorang istri/suami, dan lain sebagainya. Padahal, setiap orang, di sepanjang hidupnya,  memiliki berbagai peran, dan dalam setiap peran itu ada tanggung jawab.

Menjadi orang yang bertanggung jawab bukanlah bawaan sejak lahir, tetapi merupakan hasil dari suatu proses pembelajaran kehidupan yang tidak pendek dan sering tidak menyenangkan. Banyak orang yang tidak mau berproses sehingga menjauh dari proses tersebut. Akibatnya, mereka menjadi individu yang tidak bertanggung jawab. Perilaku tidak bertanggung jawab sudah pasti merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang bertanggung jawab sangat dibutuhkan di mana pun. Bertanggung jawab merupakan salah satu bentuk kecerdasan dan soft skill.   Itulah sebabnya, dalam merekrut Sumber Daya Manusia (SDM), perusahaan, lembaga pemerintahan, atau organisasi sosial kemasyarakatan menjadikan “bertanggung jawab” sebagai salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seseorang.  Selain itu, dalam kehidupan pribadi, seseorang sudah pasti menginginkan pasangan, rekan kerja atau sahabat yang bertanggung jawab.

Karena menjadi bertanggung jawab bukan bawaan lahir melainkan proses pembelajaran kehidupan, maka individu harus diajar untuk bertanggung jawab sedari dini. Anak harus dibantu agar dapat  memahami tanggung jawab sebagai sesuatu yang indah, mulia, menyenangkan dan bermanfaat. Dengan demikian, anak akan suka dengan “pelajaran” tanggung jawab. Jika sedari dini anak sudah diajar bertanggung jawab, ia akan bertumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab, sehingga hidupnya beruntung dan berguna bagi banyak orang. Bertanggung jawab adalah kunci keberhasilan anak, baik di sekolah maupun di dunia yang lebih besar ketika mereka tumbuh dewasa.

Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan guna meIatih anak bertanggung jawab.

Membiasakan Anak Merapikan Sendiri Mainannya

Bermain adalah kesenangan sekaligus kebutuhan anak. Itulah sebabnya, bermain sangat melekat dengan kehidupan anak. Dalam bermain, anak sering menggunakan mainan, misalnya boneka, mobil-mobilan dan lain-lain. Kesempatan ini dapat dipakai untuk melatih anak bertanggung jawab. Misalnya: anak harus merapikan semua mainannya setelah selesai bermain. Anak balita sudah dapat mengerjakan hal ini.

Membuat Kesepakatan dengan Anak

Walaupun masih kecil, bahkan balita, anak sudah dapat diajak untuk bersepakat. Misalnya: bersepakat apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab anak. Misalnya: sepakat bahwa setelah selesai bermain, anak harus merapikan mainannya; setelah bermain di luar rumah, anak harus merapikan sepatu atau sandalnya di rak; setelah selesai menggunakan suatu barang (misalnya gunting), maka anak harus mengembalikan barang itu ke tempatnya semula. Kesepakatan dengan anak bukan berarti membuat orangtua menjadi sangat permisif dengan anak, tetapi untuk menumbuhkembangkan partisipasi anak. Dengan demikian, anak akan bertanggung jawab karena sudah sepakat.

Menanamkan kepada Anak bahwa menjadi Bertanggung Jawab Menguntungkan Dirinya

Anak harus dibantu memahami bahwa bertanggung jawab sangat menguntungkan dirinya sendiri. Perilaku bertanggung jawab pada anak akan membawanya pada kebaikan dan keberuntungan. Contoh: Jika anak bertanggung jawab atas tugas-tugas sekolahnya, maka ia AKAN mendapat nilai yang baik, menjadi tambah pintar, dan disukai guru. Hal ini tentu baik bagi anak. Jika anak tambah pintar, maka anak akan beruntung. Tidak menunda-nunda mengerjakan tugas di rumah membuat anak leluasa bermain karena tugasnya sudah selesai.

Melibatkan Anak dalam Pekerjaan di Rumah

Di rumah ada banyak pekerjaan dimana anak dapat dilibatkan untuk bertanggung jawab menyelesaikannya. Misalnya: Anak usia empat atau lima tahun bertugas merapikan sandal dan sepatu yang berantakan di rak; anak kelas 1-3 SD bertugas mengantarkan piring kotor bekas makan ke tempat mencuci piring; anak kelas 4-6 SD bertugas mencuci piring, menyapu rumah, melipat pakaian, membersihkan meja, menyapu halaman, menyiram tanaman, dan lain-lain; anak SMP bertugas membantu ibu memasak; mencuci pakaian; mengepel; dan lain-lain.

Melatih Anak Membuat Daftar Tugas Sekolah

Dalam perannya sebagai pelajar, anak harus dilatih untuk bertanggung jawab. Dapat dimulai dengan mengajar anak membuat daftar tugas sekolahnya. Misalnya: mengerjakan PR; menyiapkan buku, perlengkapan belajar, pakaian seragam, sepatu dan kaos kaki; dan barang-barang lain yang dibutuhkan pada malam hari. Anak harus dilatih untuk bertanggung jawab menyiapkan semua kebutuhannya ini.

Melatih Anak untuk Mengerjakan Sendiri Tugas-tugasnya

Apa yang menjadi tugas anak adalah tanggung jawab anak. Anak harus dibantu untuk memahami hal ini. Misalnya: biarkan anak mengerjakan sendiri PRnya. Membiarkan anak mengerjakan sendiri PR atau tugas-tugasnya yang lain bukan berarti mengabaikan atau tidak perduli dengan anak. Dalam hal ini orangtua bertugas membimbing, mengarahkan, dan mendampingi. Dengan demikian, orangtua akan tahu persis apakah anak mampu mengerjakan tugas-tugasnya, apa yang dibutuhkan anak, hambatan apa yang dialami anak dan bagaimana kondisi anak, sehingga tahu apakah anak perlu dibantu, dan bantuan seperti apa yang dibutuhkan anak.

Mengajarkan kepada Anak tentang Menepati Janji atau Perkataannya Sendiri

Orang yang bertanggung jawab akan menepati kata-kata atau janjinya sendiri. Hal ini harus ditanamkan pada anak. Misalnya: anak berjanji main games hanya selama 15 menit, dan setelah itu anak akan tidur siang. Maka, setelah bermain games selama 15 menit, anak harus berhenti dan langsung tidur siang.

Mengajarkan kepada Anak tentang Konsekuensi

Semua hal mengandung konsekuensi, termasuk jika tidak bertanggung jawab. Misalnya: jika anak tidak bertanggung jawab atas tugas-tugasnya, maka ada konsekuensi, ia akan ditegur oleh guru, mendapat nilai jelek, atau mendapatkan tugas yang lebih banyak dan berat. Konsekuensi juga berarti harus mengganti barang orang lain yang anak hilangkan atau rusakkan. Jika anak menghilangkan atau merusak barang orang lain (misalnya mainan temannya yang ia pinjam), maka anak bertanggung jawab untuk mengganti. Misalnya: mengganti dengan uang tabungannya. Selain belajar bertanggung jawab, dari kejadian ini anak akan berlajar berhati-hati menggunakan barang orang lain.

Tidak Langsung Marah ketika Anak Berbuat Kesalahan

Kesalahan yang dilakukan oleh anak dapat dipandang sebagai proses belajar. Misalnya: sambil minum susu anak melompat-lompat. Padahal, ibu sudah melarang. Akibatnya, susu tumpah dan mengotori  pakaiannya. Daripada memarahi apalagi memukul anak, pakai saja kesempatan itu untuk mendidik anak, berpikir dan bertanggung jawab. Minta anak untuk membersihkan lantai, berganti pakaian, dan menaruh pakaiannya yang kotor ke dalam keranjang pakaian kotor. Anak juga dapat diajak berpikir apa akibat dari perbuatannya, misalnya: susu terbuang, padahal, harga susu tidak murah dan anak membutuhkan susu untuk kesehatan dan pertumbuhannya.

Menghindari Label Negatif, Makian dan Ancaman

Ada kalanya orangtua terstimulasi menjadi marah ketika anak tidak bertanggung jawab, misalnya: ketika anak tidak membuat PR sehingga orangtua mendapat surat teguran dari guru. Orangtua marah karena anak abai dengan tanggung jawabnya adalah hal yang dapat dipahami, tetapi memberi label negatif, makian, dan ancaman harus dihindari. Label negatif, makian dan ancaman seperti “pemalas”, “bodoh”, “dasar tidak punya tanggung jawab”, “awas ya, kalau kamu tidak mengerjakan PR, nanti mama pukul” dapat membuat anak menjadi sedih, frustasi, marah, benci, dendam, atau tambah tidak perduli. Lebih baik ajak anak bicara dan diskusi tentang mengapa ia tidak mengerjakan PR. Apakah lupa, PR itu terlalu sulit bagi anak, dan lain-lain? Selain itu, buat anak menyadari konsekuensinya. Sering mendapat label negatif, makian dan ancaman berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Tidak “Menyogok”

Ada kalanya anak sulit bertanggung jawab sehingga perlu didorong. Akan tetapi, jangan sampai dorongan menjadi sogokan. Contoh: “kalau kamu cuci piring, mama kasih uang  seratus ribu.” Hal ini berbahaya bagi perkembangan anak. Kalau pun ia mau mencuci piring, bukan karena ia memahami mencuci piring adalah tugasnya dan ia harus bertanggung jawab, tetapi demi mendapatkan uang. Bahkan, cara ini akan membuatnya menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.

Mengapresiasi Perilaku Bertanggung Jawab Anak

Apresiasi terhadap perilaku bertanggung jawab anak dapat membuat anak terdorong untuk semakin bertanggung jawab. Akan tetapi, apresiasi harus diberikan dengan wajar dan sehat. Apresiasi yang berlebihan harus dihindari karena dapat membuat anak menjadi berorientasi terhadap apresiasi.

Mengajari Anak untuk Bertanggung Jawab atas Perilakunya terhadap Orang Lain

Anak adalah individu yang sedang berkembang dalam aspek sosial. Ia belajar mengenal dan berelasi dengan orang lain. Itu dimulai dari relasinya dengan keluarganya. Dalam proses berelasi tersebut, akan terjadi berbagai dinamika, misalnya: anak berselisih paham dengan adiknya. Walaupun demikian, menyakiti orang lain, baik dalam bentuk kata-kata maupun fisik (misalnya memukul) tidak dibenarkan. Contoh: anak memukul adiknya karena kesal adiknya mengganggunya. Daripada memarahi atau memukul anak, lebih baik anak dibantu untuk memahami situasi. Misalnya: pukulannya membuat adiknya sakit. Selain itu, ini akan membuat adik menjadi takut bermain dan tidak mau bermain dengannya. Jika anak menyadari kesalahannya, maka dengan mudah ia dapat dibimbing untuk meminta maaf. Artinya, anak diajar untuk bertanggung jawab menjaga dan memperbaiki relasinya dengan orang lain.

Menjadi Role Model bagi Anak

Cara efektif mengajar anak bertanggung jawab adalah dengan menjadi teladan (role model) yang baik. Misalnya: jika orangtua berjanji kepada anak, maka orangtua harus menepati janji itu. Keteladan orangtua membuat anak hormat kepada orangtua dan membuat anak paham bahwa bertanggung jawab adalah kewajiban.

Rabu, 10 Juli 2024

MELINDUNGI ANAK DARI BENCANA PORNOGRAFI

MELINDUNGI ANAK DARI BENCANA PORNOGRAFI

Jumlah anak yang terpapar pornografi semakin banyak. Salah satu penyebabnya adalah ketidakcerdasan dalam menggunakan gawai. Kelekatan anak dengan gawai tak bisa dihindari, terutama saat dan pasca Covid 19. Di era ini hidup manusia, termasuk anak-anak, dimudahkan dengan adanya kemajuan teknologi digital. Akan tetapi, digital yang identik dengan internet tersebut jika tidak digunakan dengan bijaksana akan membawa banyak  malapetaka. Misalnya: anak menjadi terpapar pornografi, bahkan menjadi adiksi terhadap pornografi. Hasil riset menunjukkan bahwa adiksi pornografi pada anak dapat menimbulkan kerusakan serius pada otak anak. Kerusakan otak ini tentu tak bisa dianggap enteng karena menimbulkan efek negatif pada perilaku dan emosi anak, serta merusak kehidupan anak.

Saat ini, terpaparnya anak dengan pornografi sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Akibat terpapar pornografi, banyak anak yang mengalami adiksi terhadap pornografi, adiksi terhadap seks, dan terjebak dalam hubungan seks bebas. Hubungan seks bebas mengakibatkan kehamilan di luar perkawinan (kehamilan yang tidak diinginkan). Kondisi ini tentu sangat berbahaya karena dapat mengancam kesehatan dan keselamatan anak. Selain itu, dapat mengakibatkan persoalan yang lebih besar. Oleh karena itu, setiap anak harus dilindungi dari bencana pornografi.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dalam Pasal (1) Ayat (1) menyebutkan: “Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.”  Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa pornografi tidak hanya yang  disajikan melalui teknologi digital, tetapi juga dalam bentuk konvensional. Dalam undang-undang yang sama tepatnya pada Pasal (15) dikatakan: “Setiap orang berkewajiban melindungi anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses anak terhadap informasi pornografi.” Hal ini ditegaskan juga dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal (67A) yang berbunyi: “Setiap orang wajib melindungi anak dari pengaruh pornografi dan mencegah akses anak terhadap informasi yang mengandung unsur pornografi.” Jadi, harus dipikirkan dan diupayakan bagaimana caranya agar anak terlindungi dari pornografi, baik itu pornografi yang konvensional, maupun yang tersaji melalui media digital. Ini bukan hanya kewajiban orangtua saja, tetapi kewajiban setiap orang.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan orangtua guna melindungi anak dari bencana pornografi, antara lain: memberikan pendidikan karakter dan menanamkan budi pekerti kepada anak sedari dini; memberikan pendidikan literasi digital kepada anak; memberikan pendidikan hukum kepada anak; menjadi teladan bagi anak dalam berdigital; menjalin komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak; menjawab pertanyaan anak; mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang menyebabkan anak terpapar pornografi; memastikan gawai pribadi steril dari pornografi; dan menjaga hubungan intim suami istri hanya untuk suami istri.

Memberikan Pendidikan Karakter dan Menanamkan Budi Pekerti kepada Anak sedari Dini

Pendidikan  karakter dan penanaman budi pekerti kepada anak sedari dini menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Jika anak memiliki karakter dan budi pekerti yang baik, maka ia tidak akan menjadi konsumen pornografi. Ia akan menghindari paparan pornografi karena ia tahu hal tesebut tidak baik. Ia pun akan memiliki tanggung jawab moral terhadap sesama sehingga ia tidak akan membawa teman-temannya jatuh dalam pornografi.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal (26) Ayat (1) Huruf (d) tertulis: “Orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.” Undang-undang yang sama di Pasal (19) mengatakan: “ Setiap anak berkewajiban untuk: (1) menghormati orang tua, wali, dan guru; (2) mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; (3) mencintai tanah air, bangsa, dan negara; (4) menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan (5) melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.” Dari apa yang tertulis dalam pasal-pasal tersebut, jelas terlihat bahwa negara mewajibkan orangtua untuk memberikan pendidikan karakter dan menamkan nilai budi pekerti kepada anak. Negara juga memberikan kewajiban kepada anak untuk melaksanakan etika dan akhlak yang mulia. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak adalah upaya melindungi anak dari bencana pornografi.

Memberikan Pendidikan Literasi Digital kepada Anak

Digital sudah menjadi kebutuhan anak sehingga tidak dapat dihindari. Akan tetapi, karena penyalahgunaan digital dampaknya sangat berbahaya, maka anak harus diberikan pendidikan literasi digital sebelum mereka menjadi pengguna atau konsumen digital. Pendidikan literasi digital terkait dengan  bagaimana berdigital yang aman dan benar; kapan waktu berdigital; berapa lama durasinya; apa yang boleh dilakukan anak saat berdigital; apa yang tidak boleh dilakukan; dan lain sebagainya. Jika anak cerdas berdigital, maka ia akan terlindungi dari pornografi.

Memberikan Pendidikan Hukum kepada Anak

Segala sesuatu memiliki konsekuensi hukum, termasuk berdigital. Oleh karena itu, pendidikan hukum penting diberikan anak. Misalnya; apa akibat hukumnya jika mengirim gambar/foto/video porno kepada teman, baik secara individual maupun melalui media sosial seperti WA grup. Banyak anak yang  tidak paham bahwa mengirimkan gambar atau video porno kepada teman adalah perbuatan yang melanggar hukum sehingga ada sanksi hukum yang tegas dan jelas bagi pelaku. Memberikan pendidikan hukum kepada anak tidak harus dengan cara sekolah hukum. Saat ini, sumber belajar hukum sangat banyak. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah mengajarkan anak untuk taat kepada hukum yang ada di rumahnya. Jika anak sudah terampil taat kepada hukum yang ada di rumahnya, maka hal ini akan memudahkan anak taat kepada hukum positif Indonesia. Taat hukum akan menjadi gaya hidupnya.

Menjadi Teladan bagi Anak dalam Berdigital

Anak belajar dari apa yang ia lihat dan dengar. Jika apa yang diajarkan kepadanya tidak sesuai dengan apa yang ia lihat dan dengar, maka akan timbul kebingungan pada anak. Oleh sebab itu, menjadi teladan bagi anak dalam berdigital adalah penting. Jika orangtua dapat memberikan teladan berdigital yang sehat dan cerdas kepada anak, maka anak akan lebih muda berdigital dengan sehat dan cerdas. Dengan demikian, anak akan terhindar dari pornografi.

Menjalin Komunikasi yang Terbuka dan Jujur dengan Anak

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk melindungi anak dari pornografi adalah menjalin komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak. Orangtua harus dapat menjadi sahabat terbaik bagi anak-anak. Dengan demikian, orangtua akan selalu mengetahui apa yang sedang terjadi dengan anak, apa yang anak rasakan dan apa yang anak pikirkan. Keakraban orangtua dan anak menjadi kunci terhindarnya anak dari pornografi.

Menjawab Pertanyaan Anak

Anak adalah individu yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek kognitif. Hal ini menyebabkan anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ia  suka bertanya. Apabila tidak dijawab atau jawaban yang diberikan tidak memuaskan anak, maka anak akan penasaran,  dan akan mencari tahu lebih jauh. Misalnya: Anak mendengar berita tentang seorang anak yang disodomi. Kata “sodomi” bukan kata yang sehari-hari didengar oleh anak. Hal ini dapat membuat anak menjadi penasaran dengan arti kata sodomi sehingga ia bertanya kepada orangtuanya. Jika orangtua tidak menjawab pertanyaan ini dengan tepat sesuai dengan kapasitas kognitif anak, maka anak akan menjadi penasaran sehingga sangat mungkin ia melanjutkan mencari tahu jawaban. Bayangkan jika anak mencari tahu jawabannya melalui internet! Sudah pasti sangat berisko. Sangat besar kemungkinan anak terpapar pornografi. Oleh karena itu, orangtua harus mau menjawab pertanyaan anak dengan baik, sesuai dengan usia dan perkembangan anak.

Mengambil Tindakan Tegas terhadap Siapa pun yang Menyebabkan Anak Terpapar Pornografi

Banyak anak terpapar pornografi bukan karena ia dengan sengaja mencari dan mengkonsumsi pornografi tetapi karena sesuatu yang sulit bahkan tak dapat ia hindari. Misalnya: ada orang yang dengan sengaja mengirimkan gambar/video yang berkonten pornografi kepada anak; atau gambar/video berkonten porno itu dikirimkan seseorang kepada grup WA dimana anak menjadi anggota. Oleh karena itu, orangtua harus menolong anak mengatasi hal tersebut. Misalnya: meminta anak berani menegur bahkan memblokir orang tersebut; meminta anak untuk keluar dari grup WA; orangtua menegur dan menasehati si pelaku; orangtua melaporkan hal ini pada guru jika hal tersebut terjadi di grup WA kelas; atau orangtua melaporkan kejadian ini kepada orangtua si pelaku jika si pelaku adalah anak-anak. Tujuannya adalah agar si pelaku yang masih anak-anak itu mendapat didikan dan pendampingan dari orangtuanya. Jika pelaku adalah orang dewasa, selain menegur, orangtua juga dapat melaporkan orang tersebut kepada pihak berwajib.

Memastikan Gawai Pribadi Steril dari Pornografi

Gawai orangtua memang milik orangtua. Akan tetapi, pada umumnya orangtua tidak dapat menghindarkan gawai miliknya dari jangkauan anak-anak. Oleh karena itu, orangtua perlu memastikan gawai miliknya steril dari konten pornografi, baik berupa gambar, video/film, maupun aplikasi. Seringkali yang terjadi adalah: orangtua tidak merasa menyimpan sesuatu yang berkonten pornografi di gawainya dan juga tidak menginstal aplikasi porno. Akan tetapi, ketika anak memakai gawai orangtuanya, misalnya untuk bermain games, tidak sengaja anak menjadi terpapar pornografi. Ternyata, di galeri yang ada pada gawai milik orangtuanya tersebut tersimpan video/ gambar berkonten pornografi yang masuk melalui grup WA dimana orangtua anak menjadi anggota. Jadi, sebelum mengijinkan anak bermain dengan gawai kita, maka kita harus pastikan gawai tersebut bersih.

Menjaga Hubungan Intim Suami Istri hanya untuk Suami Istri

Hubungan intim suami istri seharusnya hanya untuk diketahui dan dinikmati oleh pasangan suami istri. Pasangan suami istri harus dapat menjaga hal tersebut sebagai hanya milik mereka berdua saja. Dalam banyak kasus, anak terpapar pornografi bukan dari media, tetapi dari melihat orangtuanya yang sedang melakukan hubungan intim. Oleh karena itu, orangtua tidak boleh ceroboh. Orangtua harus benar-benar memastikan bahwa segala sesuatu aman sebelum menikmati kemesraan intim suami istri. Selain itu, semua perlengkapan kontrasepsi dan koleksi film/video dewasa yang dimiliki  harus disimpan dengan baik dan aman. Pastikan itu tidak dapat dijangkau oleh anak-anak! Jangan sampai kecerobohan orangtua yang menyebabkan anak terpapar pornografi.